Rabbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj'allii min ladunka sulthaanan nashiran.
"Ya ... Rabku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar / baik, dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar / baik, dan jadikanlah aku disisimu pemimpin yang membantu " Sungguh manusia memang tidak dapat melampaui taqdir Tuhan. Ketika ia bergerak ke arah yang diinginkan, segera Tuhan memainkan perannya sebagai pengatur taqdir. Kita hanya bisa berbuat dan bertindak sementara hasil akhir itu milik-Nya sepenuhnya. Dapat dibayangkan apa jadinya jika kita tidak meminta Tuhan untuk menggerakkan kita ke tempat yang benar dan baik, maka dengan keterbatasan dan kesadaran yang lemah, bisa jadi kita akan terperosok ke tempat-tempat yang " ghair shidqin "(tempat-tempat yang kita tidak harapkan dan Tuhan pun demikian). Disinilah letak signifikansi kepasrahan kepada Tuhan. Dalam terminologi agama disebut dengan tawakkal. Kepasrahan kepada Tuhan setelah melalui serangkaian ikhtiar yang optimal. Disinilah letak signifikansi muslim (orang yang berserah diri). Disini pula kedamaian (salam) menemukan tempatnya. Betapa tidak ..! seberapa hebat akal kita menjangkau ilmu-ilmu Tuhan, pasti kita takkan sanggup melampaui ilmu-Nya yang maha luas. Terlalu banyak rahasia yang belum terkuak, terlalu banyak misteri yang tak terungkap. Sekarang sedih besok bahagia, sekarang teliti dan cermat besok ceroboh, sekarang tertutupi aib esok terbuka aib itu, sekarang optimis besok pesimis, sekarang terlihat pintar besok terlihat bodoh dan dungu. Ya ...muqallibal qulub tsabbit qulubuna 'ala thaa'atoka. Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini untuk selalu taat kepadamu. Ya ... agaknya memang kita harus menghujamkan tekad kita dalam dada, bahwa hati ini harus terus terpelihara untuk selalu bergerak ke arah ketaatan kepada Tuhan. peliharalah hati, niscaya kau akan daptkan ketenangan, peliharalah ketenangan, niscaya engkau akan dapatkan energi positif yang melimpah. peliharalah energi positif yang melimpah itu, niscaya engkau akan mendapatkan dirimu memancarkan cahaya kebaikan. pelihararah cahaya kebaikan itu, niscaya engkau akan mendapatkan realitas di sekitarmu benderang hatinya. Peliharalah realitas yang benderang hatinya itu, niscaya engkau akan mendapatkan energi kolektifitas yang tidak kau duga. Nuurun 'alaa nuurin (cahaya diatas cahaya). begitulah seharusnya kita berbikir, berrasa, dan bertindak. Selalu ... selalu ...dan selalu menjaga cahaya dalam hati kita. Cahaya itu memancar.Pancaran cahaya lebih cepat dari pancaran gerak, juga lebih cepat dari pancara suara. Jika cahaya diatas cahaya, maka ia memiliki pancaran yang lebih cepat dari cahay itu sendiri. Disini kita temukan signifikansi perubahan yang revolusioner. Selalu ada tantangan untuk mendapatkan, memelihara dan memancarkan cahaya itu. DIRI SENDIRI!!! itulah tantangannya. Ia ... yang dalam dirinya terdapat id (dorongan-dorongan primitif) kata Freud, menohok-nohok dan mencabik-cabik setiap ruang-ruang jiwa kita. Ia berada jauh di alam bawah sadar kita. Ia seperti magma dalam perut gunung merapi. Ia siap memuntahkannya. Jika ia muntah, siapa yang kuat menahan baranya. Ia panas, ia melukai, ia bahkan juga membunuh. Maka ikatlah id dengan super ego!!. Jangan biarkan id meloncat-loncat kesana kemari. Redam ia dengan suoer ego, maka egomu akan mengeksekusi keputusan-keputusan terbaik untuk dirimu. maka himpunlah nilai-nilai keshalehan, himpunlah nilai-nilai kebaikan, himpunlah nilai-nilai spiritual. Berilah super egomu asupan gizi yang berkualitas baik. niscaya kau taklukan dorongan primitifmu itu.Dengannya ....... jalan menuju cahaya pada cahaya terbuka lebar.silahkan Anda menempuhnya dan dapatkan pribadi yang memancarkan cahaya itu.
Senin, 31 Oktober 2011
Akhirnya
Pada akhirnya kita akan sendiri, sepi, sunyi, kedinginan ... dan jika kita tidak percaya akan kehidupan setelah kematian, maka kita hanya akan ditemani binatang-binatang melata.
Namun jika kita yakin akan ada kehidupan setelah kematian, maka kita akan menemukan 2 (dua) kemungkinan. Kita akan tersiksa dalam kegelapan dan kesempitan atau kita akan mendapatkan kehidupan baru yang lapang dan damai.
Hei ... dimanakah aku akan berada pada saat itu??. Kehidupan setelah kematian itu, betapapun kita tidak menginginkannya, kita akan tetap menempuhnya. Dan disanalah perjalanan keabadian dimulai.
Jika ketika didunia ini manusia merupakan himpunan "Fisik - Psiko - Sosio - Spiritual", maka setelah kematian, kita akan menjadi himpunan apa?. Karena pastilah fisik kita sudah habis dimakan cacing. Pastilah sosio tidak akan terwujud karena kita tidak berinteraksi dengan manusia lain. Psiko pun mungkin juga tidak akan berwujud. Akankah tinggal potensi spiritual? Dan akan kah Tuhan sudah menampakkan diri pada saat itu?
Hmmm ... dalam kondisi apapun aku pada saat itu, apakah seonggok tulang belulang? Apakah dalam kegelapan dan kehimpitan? Atau dalam kedamaian dan kelapangan? Aku akan tetap melakukan yang terbaik dalam hidupku yang tidak abadi ini.-Untukku !!! Keluarga !! Masyarakat !!!
Intervensi Tuhan
Pilihan .... Itulah hidup. Mau kaya atau miskin, mau pintar atau bodoh, mau dihargai atau dihina, mau sayang atau benci, mau baik atau jahat, mau jadi pedagang atau guru, mau jadi petani atau nelayan, mau jadi militer atau sipil, mau jadi bos atau karyawan, mau jadi presiden atau rakyat biasa. Mau jadi apapun, siapapun, bagaimana pun dan kapanpun manusia punya hak menentukan pilihan.
Berbeda dengan makhluk lain, manusia punya akal pikiran. Oleh karenanya ia punya kesadaran. Kesadaran inilah yang mengeksekusi pilihan-pilihan. Sepertinya sederhana, namun tak mudah dalam prakteknya. Terlalu banyak pilihan-pilhan yang terhampar dihadapan kita. Sialnya .... Menentukan pilihan, mensyaratkan kesadaran saat mengeksekusinya. Tidak semua kita memiliki kesadaran penuh ketika mengambil keputusan untuk memilih. Akhirnya lebih banyak pilihan yang kita ambil dieksekusi dalam kondisi kesadaran yang teramat lemah.
Disinilah sesungguhnya posisi sang penguasa taqdir bekerja. Ia lah yang meluruskan dan memuluskan jalan, ia lah yang membelokkan, menggeser, menunda, mempercepat, menyadarkan, dan seterusnya ... seterusnya. Oleh karenanya ... lagi-lagi disini do'a memainkan perannya. Dan aku paling suka dengan do'a yang ini:
"Robbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj'allii min ladunka sulthanan nashiiran".
Selanjutnya, pada pilihan terhadap karir, menjemput rizki, istri / perempuan, dan lain sebagainya. Betapapun lurus niatnya, terjaga kesungguhannya, ku serahkan sepenuhnya kepada-Mu. Dan seperti yang Engkau tampakkan, dalam perjalanannya, aku berusaha dan Engkau yang menempatkannya. Situasi, emosi, pikiran seperti itu adanya. Kini aku merasa tentram dan damai. Terima kasih Tuhan Engkau bimbing aku ke jalan milik-Mu.
Berbeda dengan makhluk lain, manusia punya akal pikiran. Oleh karenanya ia punya kesadaran. Kesadaran inilah yang mengeksekusi pilihan-pilihan. Sepertinya sederhana, namun tak mudah dalam prakteknya. Terlalu banyak pilihan-pilhan yang terhampar dihadapan kita. Sialnya .... Menentukan pilihan, mensyaratkan kesadaran saat mengeksekusinya. Tidak semua kita memiliki kesadaran penuh ketika mengambil keputusan untuk memilih. Akhirnya lebih banyak pilihan yang kita ambil dieksekusi dalam kondisi kesadaran yang teramat lemah.
Disinilah sesungguhnya posisi sang penguasa taqdir bekerja. Ia lah yang meluruskan dan memuluskan jalan, ia lah yang membelokkan, menggeser, menunda, mempercepat, menyadarkan, dan seterusnya ... seterusnya. Oleh karenanya ... lagi-lagi disini do'a memainkan perannya. Dan aku paling suka dengan do'a yang ini:
"Robbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj'allii min ladunka sulthanan nashiiran".
Selanjutnya, pada pilihan terhadap karir, menjemput rizki, istri / perempuan, dan lain sebagainya. Betapapun lurus niatnya, terjaga kesungguhannya, ku serahkan sepenuhnya kepada-Mu. Dan seperti yang Engkau tampakkan, dalam perjalanannya, aku berusaha dan Engkau yang menempatkannya. Situasi, emosi, pikiran seperti itu adanya. Kini aku merasa tentram dan damai. Terima kasih Tuhan Engkau bimbing aku ke jalan milik-Mu.
Rasakan sensasinya.
Kawan, ingin aku katakan sesuatu kepadamu.
Sungguh yang kita cari dalam hidup ini adalah Tuhan. Bukan yang lain.
Apakah engkau masih belum yakin???
Andai engkau jawab belum, gak apa-apa. Memang sebagian kita pun kadang dihinggapi keraguan. bahkan Nabi-nabi-Nya pun pernah mengalami fase "keraguan" itu. Tapi lagi-lagi sungguh. Pernah kusandarkan hidupku pada karir, yang kudapat adalah kepuasan dan penderitaannya sekaligus. Bukan substansi. Pernah kusandarkan hidupku pada harta, yang kudapat adalah kesenangan dan penderitaannya sekaligus. Bukan substansi. Pernah kusandarkan hidupku pada pengetahuan, yang kudapat adalah pencerahan dan keangkuhannya sekaligus. Bukan substansi. Pernah kusandarkan hidupku pada sahabat, yang kudapat adalah kehangatan dan pengkhianatannya sekaligus. Bukan substansi. Kawan, substansi hidup justru ada pada-Nya.
Dari-Nya kita mulai, bersama-Nya kita berproses dan kepada-Nya kita kembali. Menariknya, saripati kebahagiaan justru dapat direguk pada usaha dan hasil mendekatkan diri kepada-Nya. Lihatlah wujud-Nya dalam karya-karya kosmologi-Nya dan dapatkan Tuhan hadir dalam karya-karya-Nya itu. Dengarlah suara-Nya dalam lantunan ayat-ayat suci-Nya dan nikmati keindahan-Nya. Raba lah angin yang berhembus, raba lah tanah yang kau pijak dan rasakan kehadiran-Nya. Ciumlah wangi-Nya dalam kebaikan dan kemuliaan pribadi-pribadi yang selalu dekat dengan-Nya dan rasakan keharuman-Nya dari cahaya yang terpancar dari pribadi-pribadi itu. Rasakan .... rasakan .... dan ... nikmati .... setiap sensasi kehadiran Tuhan dalam diri. Hirup napas dalam-dalam .... hembuskan perlahan-lahan ... dan rasakan lagi sensasi-Nya. Kesanalah .... kesanalah ... dan kesanalah engkau akan kembali. Berjalanlah ... berjalanlah ... dan berjalanlah menuju-Nya dengan kerendahan hati dan kerendahan diri. Datanglah ... datanglah ... dan temuilah Ia ... dalam rindu yang tak terperi.
Sungguh yang kita cari dalam hidup ini adalah Tuhan. Bukan yang lain.
Apakah engkau masih belum yakin???
Andai engkau jawab belum, gak apa-apa. Memang sebagian kita pun kadang dihinggapi keraguan. bahkan Nabi-nabi-Nya pun pernah mengalami fase "keraguan" itu. Tapi lagi-lagi sungguh. Pernah kusandarkan hidupku pada karir, yang kudapat adalah kepuasan dan penderitaannya sekaligus. Bukan substansi. Pernah kusandarkan hidupku pada harta, yang kudapat adalah kesenangan dan penderitaannya sekaligus. Bukan substansi. Pernah kusandarkan hidupku pada pengetahuan, yang kudapat adalah pencerahan dan keangkuhannya sekaligus. Bukan substansi. Pernah kusandarkan hidupku pada sahabat, yang kudapat adalah kehangatan dan pengkhianatannya sekaligus. Bukan substansi. Kawan, substansi hidup justru ada pada-Nya.
Dari-Nya kita mulai, bersama-Nya kita berproses dan kepada-Nya kita kembali. Menariknya, saripati kebahagiaan justru dapat direguk pada usaha dan hasil mendekatkan diri kepada-Nya. Lihatlah wujud-Nya dalam karya-karya kosmologi-Nya dan dapatkan Tuhan hadir dalam karya-karya-Nya itu. Dengarlah suara-Nya dalam lantunan ayat-ayat suci-Nya dan nikmati keindahan-Nya. Raba lah angin yang berhembus, raba lah tanah yang kau pijak dan rasakan kehadiran-Nya. Ciumlah wangi-Nya dalam kebaikan dan kemuliaan pribadi-pribadi yang selalu dekat dengan-Nya dan rasakan keharuman-Nya dari cahaya yang terpancar dari pribadi-pribadi itu. Rasakan .... rasakan .... dan ... nikmati .... setiap sensasi kehadiran Tuhan dalam diri. Hirup napas dalam-dalam .... hembuskan perlahan-lahan ... dan rasakan lagi sensasi-Nya. Kesanalah .... kesanalah ... dan kesanalah engkau akan kembali. Berjalanlah ... berjalanlah ... dan berjalanlah menuju-Nya dengan kerendahan hati dan kerendahan diri. Datanglah ... datanglah ... dan temuilah Ia ... dalam rindu yang tak terperi.
Minggu, 30 Oktober 2011
THE TITANIC
Hari itu tepat jam 5 sore, saat matahari hendak terbenam di ufuk barat dan lembayung senja menampakkan semburat kuning oranye nan indah. Ku kemas semua barang : kardus yang berisi buku-buku dan sepatu kulit, makanan ringan, gula aren asli dari Menes, emping melinjo, keceprek, satu tas ransel yang berisi pakaian dan satu tas dorong tarik merek POLO. Tiga baris manusia berderet memanjang dan mengular bersiap untuk keluar dari kapal Sinabung yang sudah dua hari satu malam terapung melintasi lautan lepas menerobos selat sunda melintasi samudera luas dari Tanjung Priok. Dan kini telah tiba di tengah laut Tanjung Balai Karimun untuk kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Medan .
Sungguh segalanya seperti mimpi. Aku melewati dua hari satu malam dalam kapal milik Pelni ini. Ini adalah kapal Titanicnya Indonesia . Konon kapal ini adalah buatan Jerman. Di lantai teratas deretan kamar VIP, dengan masing-masing tertutup pintu kamar yang rapi bersihdan rapi. Kalau kita usapkan telapak tangan kita untuk merasakan tekstur dinding berlapis kayu tipis nan halus ini, maka akan terasa seperti mengusap kulit gadis yang selalu diluluri oleh lotion Citra bengkuang. Begitu halus, licin dan mengkilap. Sebuah kamar dengan dua tempat tidur lengkap dengan selimut tebalnya, gorden yang berwarna merah marun yang jika disingkap akan tampak lautan lepas dari kaca berbentuk lingkaran cekung dalam kamar dan cembung dari luar, lantainya beralaskan karpet tebal nan lembut, sebuah TV flat lengkap dengan DVD player dan remote controlnya. Full AC, Kulkas yang berisi air kaleng dan beberapa snack makanan ringan yang siap dilumat untuk cemilan. Kamar mandinya maaak,,!, dengan wc duduk, shower yang memancarkan air panas dan dingin, cermin tergantung di atas westafel yang terawat dengan baik, lux, bercita rasa tinggi. Pintu toiletnya hanyalah sebuah gorden tembus pandang yang kalau mandi akan terlihat seluruh aktivitas dan lekukan tubuh saat dibasuh sabun dan disirami air dari shower. Transparan..!. terlihat, tapi tak lekat betul. Aku menduga kamar ini memang disiapkan untuk orang-orang yang berbulan madu yang ingin menikmati perjalanan petualangan di lautan lepas nusantara. Ada aura kenyamanan, bonafiditas, dan erotisme yang nyaman namun liar. Ada lantai dansa yang khusus disediakan bagi penghuni kelas VIP ini lengkap dengan mini bar, diskjockey, “penghuni kelas VIP ini akan melantai jam 10 malam ke atas”. Ujar seorang yang baru ku kenal sambil berbisik ke telingaku saat kami sama-sama melihat dari luar jendela kaca ke dalam satu ruangan remang-redup nan romantis dengan ruangan luas dan dinding ruang yang dihiasi desain interior yang menawan.
Tempat makan kelas VIP ini pun memiliki ruangan yang luas dengan meja makan berkelompok-kelompok dikelilingi kursi makan yang empuk. Lampunya selalu remang temaram dipandu syahdu lagu dengan beat slow. Pakaian yang mereka kenakan sangat rapi dan elegan. Aku menduga sekurang-kurangnya pakaian yang mereka kenakan merk Bruno Piatelli dengan logo kunci perak bermata tiga ruas itu. Para waitres dengan kemeja putih berhiaskan dasi kupu-kupu dan celana panjang hitam, rapi mengkilat dengan sigap dan cekatan menyusun menu makanan untuk orang-orang elite kelas berduit ini. Di pintu masuk ruang makan tertera sebuah tulisan dengan warna merah terang. “DILARANG MENGENAKAN SENDAL JEPIT..!”. aku yang saat itu terjebak di lorong ini dan mengenakan sandal jepit saat mencari arah datangnya suara azan maghrib langsung putar haluan.
“Ah… ini bukan tempat yang kutuju”.
Aku telusuri lagi dari mana datangnya suara azan maghrib. Memasuki lorong-lorong dan menaiki anak-anak tangga. Oo.. disini rupanya. Di paling belakang bagian kapal ini di bawah kantin yang menyajikan beragam menu dengan diselingi karaoke ria. Ruangan luas dengan hawa sejuk menusuk tulang belulang. Musholla ini memang udaranya paling dingin diantara ruang-ruang dan lorong-lorong di setiap bagian kapal ini. Segera aku ambil air wudlu… wuih, sueger.. plong… raga pun terasa berjiwa.. ini mungkin yang dikatakan dosen psikoterapiku Asep Haerul Gani sebagai ada efek teurapetik dalam ritus-ritus keagamaan. Satu diantaranya adalah berwudlu, yang memberi efek pijat pada syaraf-syaraf di area rambut dan kepala. Belum lagi sensasi kesegaran yang mengalir saat menghirup air ke dalam hidung. Aku masuk ke musholla, sambil tak lupa membaca do’a “allahahummaftahlii abwaaba rahmatika[1]”. Para jama’ah sudah bersiap melaksanakan sholat maghrib. Aku menyesuaikan diri mengisi shaf yang masih kosong. “showwuu shufufakum fainna tashwiyatashshufuf min iqomatishsholah…! Lurus dan rapatkan shaf..!” seru sang imam. Takbir sang imam pun menggema. ALLAHU AKBAR..! kunikmati setiap lantunan fatihah dan ayat yang mengalun dari sang imam. Nadanya merdu dengan gaya murattal yang indah. Terasa betul kalau sang imam memiliki kemampuan dan pemahaman keagamaan yang mumpuni include bahasa arab dan tafsir al Qur’an. Hentakan tinggi rendahnya setiap nada disesuaikan dengan makna dari ayat yang dibaca. “bismillahirrahmanirrahiim… Qul law kaanal bahru midadallikalimati rabbi lanafidalbahru qobla an tanfadza kalimaatu rabbi wa law ji’na bi mistlihi madada[2]”. Ah.. bahkan pilihan ayatnya pun kontekstual bagi kami yang kini sedang berlayar di lautan lepas.. Subhanallah… ayat ini menemukan konteksnya. Keagungan Tuhan dan kemaha-anNya begitu menyayat jiwa. Dalam khusyuk ku bersyukur atas nikmat Tuhan, dalam sujud kurasakan diri ini kecil, kerdil dan tak berdaya. Tubuhku diantara ribuan penumpang dalam kapal terombang-ambing di lautan lepas nan luas karya agung Sang Maha Agung. Tak dapat ku mengerti bagaimana Fir’aun dapat angkuh dan congkak hingga menyebut dirinya tuhan, padahal ia hanyalah sepotong tubuh yang teronggok kecil di hamparan padang pasir yang terhampar luas.
Ayat al Qur’an ini sangat aku hafal. Bukan karena sengaja menghafalnya. Aku hanya sering membacanya di lemari kecil berisi makanan sahabatku, Asep Muhyiddin. Sewaktu di pesantren yang gemar sekali dengan kaligrafi, khususnya gaya kaligrafi dengan jenis khat diwani[3]. Ia juga menjadikan ayat ini sebagai ayat favoritnya. Ayat ini pun terukir indah di dinding lemari dengan goresan tipis tebal yang terukur dan presisinya yang sempurna dari spidol yang telah ia potong sendiri hingga menyerupai Qalam. Ia adalah juara 2 lomba kaligrafi setelah Agus Purnama Cahya dalam sebuah pertandingan bergengsi peringatan tahun baru Islam di pesantren kami pada saat itu.
Aku sendiri mengikuti perlombaan bergengsi ini. tak habis pikir bagaimana bisa aku memiliki kepercayaan diri, padahal teknik kaligrafi di bawah rata-rata para penghuni pondok pesantren. Aneh.. saat diumumkan didepan santri putra dan puteri... “lomba kaligrafi… juara tiga jatuh pada Engkun Ayatullah Shiddiq..” “Haaaaahhh..!?! ki meunang euy..??!” seruku dengan terheran-heran tak percaya pada kiki sahabat karibku anak pimpinan pondok yang saat itu duduk disampingku menunggu hasil pengumuman pertandingan sepak bola yang hasilnya sudah kami ketahui bahwa medali emas itu menjadi milik kami sekarang setelah tiga tahun menunggu. “alaaaaaaaaah… gancang ka hareup tuh..”[4] sahutnya. Saat menuju panggung untuk menerima piagam penghargaan, dalam hati aku terus bertanya. Kawan… aku tidak membuat kaligrafi, aku hanya membuat nun melengkung menyerupai cabe keriting, ku bubuhi warna merah menyala dan memberikan efek terang pada nuun yang sudah merah menyala dengan arsiran warna kuning. Nun itu semakin terlihat merah bagai cabe merah keriting., dalam satu rangkaian ayat nuun wal qalami wa maa yasthuruun. Ini bukan kaligrafi…(aku berbicara pada diriku sendiri) hanya tulisan arab dengan sentuhan cita rasa pedas…!. Aku pun menelusuri bagaimana keputusan juri menempatkan aku sebagai juara tiga. Penelitian kecil-kecilan berbasis cause and effect pun dilakukan kemudian. Ternyata sebelum memberikan penilaian, panitia menyuguhi dewan juri dengan masakan padang dengan sambal cabe merah yang membuat seuhah…! Walhasil sensasi pedasnya masakan padang rupanya mempengruhi sisi subjektif dari penilaian. Subhanallah… maha suci Allah penggenggam setiap kejadian. Terima kasih ya.. Allah, sensasi pedasnya masakan padang telah mengantarkan taqdirku menjadi juara tiga kaligrafi. Dan piagam sebagai penanda takdir itu kini kusimpan baik-baik dalam bungkus pelastik laminating di lemari arsip pribadi.
Aku kembali ke tempatku… kelas 3 wisata. Mengambil tiket untuk mendapat jatah makan malam. Di kelas ini antri adalah budaya yang familiar, mau makan, mau mandi, mau gosok gigi, mau buang air kecil maupun besar harus antri..!. Dari segi kelas dan harga tiket, 3 wisata satu tingkat di atas kelas ekonomi. Di atas kelas 3 wisata masih ada kelas 2 dan kelas 1. Baru kemudian VIP. Kalau diperbandingkan dalam urut-urutan rangking para pelajar, kelas ini berada di rangking 38 dari 40 siswa. Memang bukan rangking terakhir, tapi nyaris terdegradasi. Di kelas 3 wisata ini aku masih bersyukur walaupun harus antri, namun tempat tidurnya nyaman walau berjejer jejer di ruangan luas tanpa kamar-kamar seperti di VIP, kelas 1 atau kelas 2. Tempat makanan pun piring berbahan keramik. Dibanding kelas ekonomi yang harus antri mengular panjang dengan menenteng dendengan mirip para penghuni penjara dalam film gadis bionic, saat si kuntet memaksa tawanannya memakan kotoran. Kulihat sebagian malah menghindari antrian dan memilih makan pop mie dengan siraman air panas yang tersedia di keran air di lambung kiri kapal, dibanding harus antri mengular untuk dapat makan nasi dengan ikan tamban dan sekecrot sayur daun sawi.
Beruntung aku sudah begitu terlatih dengan budaya antri. Istilah ini aku kenal waktu kelas 1 di sebuah pesantren di bawah kaki gunung guntur . Saat seorang sahabat dengan gigi tonggos berteriak-teriak hendak membagikan makanan yang baru saja dikirim orang tuanya dari Bandung . Aku dan teman-temanku yang lain yang satu asrama berebutan. Ia kehilangan kemampuan untuk mengendalikan kami. Serta merta ia ambil makanan yang masih terbungkus pelastik itu, kemudian naik ke atas ranjang tingkat dua. Hari itu adalah Yaumul lughah (hari wajib berbahasa arab dan inggris) tidak diperkenankan menggunakan bahasa selain itu. Jika menggunakan bahasa selain kedua bahasa itu, ustadz-ustadz kami di bagian muharrikullughah (penggerak bahasa), siap memberikan hukuman. Ia pun berteriak lantang “Thobuur yaa akhii…. Thobuur…![5]. Serunya dengan bahasa arab dilengkapi curahan air liur yang muncrat dari mulutnya yang selalu kesulitan untuk tertutup karena terhalang gigi geligi. Ternyata sekedar untuk mengerti dan menghayati makna antri, aku harus mendapatkannya dari rebutan makanan dan teriakan si gigi tonggos dengan sedikit semburan air liur. Sebuah padu padan variable yang chemistrik untuk memudahkan long term memoryku bekerja dengan baik. Sejak saat itu antri bagiku menjadi cara yang memudahkan mekanisme pembagian makanan dan melatih kesabaran enzyme dalam tubuh.
Orang-orang itu merangsek menerobos antrian penumpang yang hendak keluar kapal dari arah yang berlawanan dengan para penumpang. Warna baju oranye seragam bagai para astronot yang dieluk-elukkan sebagai pahlawan dalam film Armagedon. Hanya bedanya orang-orang ini bertubuh kekar, berotot dengan warna kulit hitam terpanggang dan terbakar matahari. Di baju tepat di dada sebelah kanan tertulis PORTER dengan nomor yang masing-masing berbeda.
“Porter bu…? Porter Pak..? orang-orang ini menawarkan jasa pada para penumpang yang hendak turun kapal dengan barang bawaan yang menggunung di samping tempat tidurnya. Saat pemilik barang-barang ini mengangguk mengiyakan, segera dengan tangan-tangan kokoh nan kekar cekatan para porter ini mengikat barang-barang itu dengan tali-tali yang sudah mereka siapkan untuk mengangkut barang-barang agar lebih mudah dan efisien dibawa diatas pundak mereka. Keringat membanjir membasahi punggung dan membuat baju seragam oranye itu basah bersimbah peluh saat barang-barang itu sudah hinggap di pundak. Mereka adalah para pahalawan bagi pemilik barang-barang yang menggunung. Dan pahlawan bagi istri dan anak-anak mereka, karena tangan kekar nan kokoh dan badan bersimbah peluh adalah keahlian yang dimiliki untuk menafkahi keluarganya.
Aku ikut terhimpit dalam antrian yang panjang saat mengekor ikut para penumpang lain yang hendak turun di Tanjung Balai Karimun. Perlahan dan pasti antrian ini mengantarkan aku ke pintu kapal di lambung kanan. Aaah… sebentar lagi aku jejakkan kaki di pulau kecil yang bahkan di peta pun tidak tertera. Tidak banyak yang aku ketahui tentang pulau ini. sedikit yang ku tahu. Saat itu aku membaca majalah Panji Masyarakat yang sudah berdebu di perpustakaan pondok pesantren gunung guntur . Edisi laporan khusus “GOLDEN MILLION, TEMPAT PROSTITUSI TERBESAR SE ASIA ”. Dalam laporannya, wartawan Panji Masyarakat menuliskan bahwa Golden Million ini terletak di pulau kecil di Indonesia satu jam waktu tempuh dari singapura, Tanjung Balai Karimun. Hhmmm… dalam hitungan menit aku akan menyaksikan sebuah gambar nyata tempat para penajaja seks dan para pria berhidung belang-belang bertransaksi di pulau ini.
Kini aku berdiri berhimpitan dengan barang-barang yang aku tenteng sendiri tanpa bantuan Porter. Saat keluar dari pintu kapal… aku terkejut…. Ternyata kapal ini tidak merapat di pelabuhan sebagaimana saat aku naik dari pelabuhan Tanjung Priok. Kami masih berada di tengah laut. Dan kusaksikan perahu-perahu kecil merapat menempel di dinding kapal the titanic Indonesia buatan Jerman ini. Suara mesin dari perahu-perahu itu menderu-deru bising dan mengeluarkan asap hitam pekat yang membumbung ke udara. The titanic seperti diserbu oleh sekawanan bajak laut yang mengepung seluruh penjuru kapal. Kusaksikan seorang ibu dengan menggendong anak dan tas di tangan menjerit-jerit takut terpeleset dan terjatuh ke lautan, menuruni anak tangga yang menggantung berayun yang menghubungkan the Titanic dengan perahu-perahu kecil nan buruk mirip perahu-perahu bajak laut yang dikisahkan dalam cerita-cerita Pendekar Naga Geni 212.
Kini tiba giliranku. Aku berdiri di ujung tangga. Tas ransel, aku gendong. Tangan kanan menggenggam dua dus Indomie berisi makanan, bekal yang disiapkan ibuku, tangan kiri memegang tas tarik dorong POLO. Tak ada tangan tersisa untuk memegang pembatas tangga. Aku komat kamit membaca istghfar. Aku pasrahkan diriku pada sang Penguasa Taqdir. Dan mempercayakan kemampuan keseimbangan tubuh pada telinga. Konsentrasi penuh, komat kamit terus mengalir. Keringat terus bercucuran menghiasi wajah dan membasahi baju di punggung. Kini aku menjadi sang Porter tanpa pengalaman. Anak tangga pertama dan kedua berhasil kulalui. Kini menuju anak tangga ketiga, tangga ini mulai berayun. Teriakan dari para ‘pembajak’ terus terdengar. “cepat bang…! Cepat…! Waktu kita sedikit….! Kalau malam makin gelap, payah bawa pong-pong ni…!”. Keringatku makin deras bercucuran… aku limbung… terhuyung ke sebelah kanan dari anak tangga.. keseimbangan ku oleng… aku hampir saja terpeleset.. sekuat tenaga aku berjuang mendapatkan kembali keseimbangan tubuhku. Daaan… Berhasil…! Kulanjutkan menuruni anak tangga berikutnya… tangga pun makin berayun… tak ada jalan lain aku harus tenang, serahkan nasibku pada Sang Penggenggam setiap kejadian, untuk mendapatkan kembali kesimbanganku.
Dengan tertatih tatih akhirnya sampai juga di ujung tangga. Segera para ‘pembajak’ itu meraih tangan dan mengambil kardus dan tas di tanganku untuk kemudian disimpan ditempat bertumpuknya barang-barang penumpang lain. Perahu kecil yang disebut pong-pong ini pun penuh berjejal. Segera nahkoda perahu ini mengarahkan perahu meninggalkan kapal besar the titanic Indonesia . Di atas pong-pong ini aku tengadah menatap The Titanic, ia begitu gagah, kokoh, perkasa, angkuh namun menawan penuh wibawa. Kini tubuhku dibawa perahu kecil dan berayun-ayun disapu gelombang setinggi dua sampai tiga meter. Kembali aku komat-kamit beristighfar. Semburat lembayung senja perlahan menghilang. Matahari tak lama lagi akan ikut menghilang. Aku dan para penumpang lain masih terayun terombang ambing di atas perahu reyot yang terus dihantam ombak … dalam hati sedikit keraguan terus mempertanyakan keputusanku meninggalkan Jakarta dengan segala kemegahan dan kesemrautannya untuk kemudian memilih hidup di pulau kecil nun jauh dari sanak saudara. Hanya kisah Paulo Freire dan Ivan Illich dengan ide-ide pendidikan pembebasannya yang membuat aku kuat dengan segenap jiwa dan raga menempuh perjalanan panjang meninggalkan metropolitanisme. Disini akan kuabdikan hidupku pada dunia pendidikan di sebuah sekolah negeri yang baru diresmikan pemerintah yang terletak di gunung bebatuan di pulau kecil. Di sini pula akan aku ikrarkan kesungguhan cintaku pada sang gadis yang telah ku puja selama 4 tahun masa persemaian cintaku kepadanya…
”man salaka thoriiqan yaltamisu bihii ‘ilman sahhalallahu lahu thariqan ilal jannah” [6] hadist dalam Bulughul Maraam… kitab hadist pelajaran akhlak yang disampaikan ustadz Agus Yusuf serta merta terngiang-ngiang… menemani perjalanan dengan pong-pong yang kini mulai merapat di pelabuhan Tanjung Balai Karimun. Gadis mungil berjilbab putih dari kejauhan melambai-lambaikan tangan dengan senyuman khas yang sudah hampir 2 tahun tak pernah kulihat. Kini ia menyambutku disertai sanak keluarganya. Akhirnya aku bertemu kembali dengan sang gadis pujaan hati. “annikaahu sunnatii fa man raghiba ‘an sunnati falaysa minnii”[7] hadist nabi yang sangat mudah untuk dihapal ini berkelebat saat melihat sang gadis mungil berjilbab putih itu timbul tenggelam di antara para penjemput penumpang yang berdesakan. Aku pun teringat sebuah lagu yang dinyanyikan Doel Soembang :
“Harita basa usum halodo panjang…”
“Calik paduduan dina samak salambar…”
“Deuk ngadeugkeun harti asih saeunyana…”
“Deuk ngadeugkeun harti deudeuh saeunyana…” .”[8]
[1] Yaa Allah Ya Tuhanku.. bukakanlah untukku pintu-pintu rahmatMu..
[2] “Katakanlah (Muhammad) seandainya lautan dijadikan tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat (bukti kebesaran) Ku, sungguh lautan ini akan kering sebelum kalimat-kalimat Ku selesai dituliskan bahkan walau ditambahkan lagi dan lagi sebanyak air lautan itu”.
[3] Jenis seni tulis arab yang berbentuk lengkung melengkung dan mendayu
[4] Halaaaah udah cepetan maju ke depan…
[5] Antri saudaraku… antri…!
[6] ”Barang siapa yang menempuh jalan hidup dengan mempelajari ilmu dan mengajarkannya, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”
[7] Nikah adalah sunnahku maka barang siapa yang tidak mengikuti sunnahku ia tidak termasuk golonganku.
[8] Satu bait syair dari lagunya Doel Soembang… yang berarti : Waktu itu musim kemarau panjang… duduk berdua diatas selembar tikar pandan… hendak meneguhkan makna kasih yang sesungguhnya… hendak meneguhkan makna rindu sesungguhnya….
Langganan:
Postingan (Atom)