Pilihan .... Itulah hidup. Mau kaya atau miskin, mau pintar atau bodoh, mau dihargai atau dihina, mau sayang atau benci, mau baik atau jahat, mau jadi pedagang atau guru, mau jadi petani atau nelayan, mau jadi militer atau sipil, mau jadi bos atau karyawan, mau jadi presiden atau rakyat biasa. Mau jadi apapun, siapapun, bagaimana pun dan kapanpun manusia punya hak menentukan pilihan.
Berbeda dengan makhluk lain, manusia punya akal pikiran. Oleh karenanya ia punya kesadaran. Kesadaran inilah yang mengeksekusi pilihan-pilihan. Sepertinya sederhana, namun tak mudah dalam prakteknya. Terlalu banyak pilihan-pilhan yang terhampar dihadapan kita. Sialnya .... Menentukan pilihan, mensyaratkan kesadaran saat mengeksekusinya. Tidak semua kita memiliki kesadaran penuh ketika mengambil keputusan untuk memilih. Akhirnya lebih banyak pilihan yang kita ambil dieksekusi dalam kondisi kesadaran yang teramat lemah.
Disinilah sesungguhnya posisi sang penguasa taqdir bekerja. Ia lah yang meluruskan dan memuluskan jalan, ia lah yang membelokkan, menggeser, menunda, mempercepat, menyadarkan, dan seterusnya ... seterusnya. Oleh karenanya ... lagi-lagi disini do'a memainkan perannya. Dan aku paling suka dengan do'a yang ini:
"Robbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj'allii min ladunka sulthanan nashiiran".
Selanjutnya, pada pilihan terhadap karir, menjemput rizki, istri / perempuan, dan lain sebagainya. Betapapun lurus niatnya, terjaga kesungguhannya, ku serahkan sepenuhnya kepada-Mu. Dan seperti yang Engkau tampakkan, dalam perjalanannya, aku berusaha dan Engkau yang menempatkannya. Situasi, emosi, pikiran seperti itu adanya. Kini aku merasa tentram dan damai. Terima kasih Tuhan Engkau bimbing aku ke jalan milik-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar