Senin, 31 Oktober 2011

Cahaya Hati

Rabbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj'allii min ladunka sulthaanan nashiran.
"Ya ... Rabku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar / baik, dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar / baik, dan jadikanlah aku disisimu pemimpin yang membantu " Sungguh manusia memang tidak dapat melampaui taqdir Tuhan. Ketika ia bergerak ke arah yang diinginkan, segera Tuhan memainkan perannya sebagai pengatur taqdir. Kita hanya bisa berbuat dan bertindak sementara hasil akhir itu milik-Nya sepenuhnya. Dapat dibayangkan apa jadinya jika kita tidak meminta Tuhan untuk menggerakkan kita ke tempat yang benar dan baik, maka dengan keterbatasan dan kesadaran yang lemah, bisa jadi kita akan terperosok ke tempat-tempat yang " ghair shidqin "(tempat-tempat yang kita tidak harapkan dan Tuhan pun demikian). Disinilah letak signifikansi kepasrahan kepada Tuhan. Dalam terminologi agama disebut dengan tawakkal. Kepasrahan kepada Tuhan setelah melalui serangkaian ikhtiar yang optimal. Disinilah letak signifikansi muslim (orang yang berserah diri). Disini pula kedamaian (salam) menemukan tempatnya. Betapa tidak ..! seberapa hebat akal kita menjangkau ilmu-ilmu Tuhan, pasti kita takkan sanggup melampaui ilmu-Nya yang maha luas. Terlalu banyak rahasia yang belum terkuak, terlalu banyak misteri yang tak terungkap. Sekarang sedih besok bahagia, sekarang teliti dan cermat besok ceroboh, sekarang tertutupi aib esok terbuka aib itu, sekarang optimis besok pesimis, sekarang terlihat pintar besok terlihat bodoh dan dungu. Ya ...muqallibal qulub tsabbit qulubuna 'ala thaa'atoka. Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini untuk selalu taat kepadamu. Ya ... agaknya memang kita harus menghujamkan tekad kita dalam dada, bahwa hati ini harus terus terpelihara untuk selalu bergerak ke arah ketaatan kepada Tuhan. peliharalah hati, niscaya kau akan daptkan ketenangan, peliharalah ketenangan, niscaya engkau akan dapatkan energi positif yang melimpah. peliharalah energi positif yang melimpah itu, niscaya engkau akan mendapatkan dirimu memancarkan cahaya kebaikan. pelihararah cahaya kebaikan itu, niscaya engkau akan mendapatkan realitas di sekitarmu benderang hatinya. Peliharalah realitas yang benderang hatinya itu, niscaya engkau akan mendapatkan energi kolektifitas yang tidak kau duga. Nuurun 'alaa nuurin (cahaya diatas cahaya). begitulah seharusnya kita berbikir, berrasa, dan bertindak. Selalu ... selalu ...dan selalu menjaga cahaya dalam hati kita. Cahaya itu memancar.Pancaran cahaya lebih cepat dari pancaran gerak, juga lebih cepat dari pancara suara. Jika cahaya diatas cahaya, maka ia memiliki pancaran yang lebih cepat dari cahay itu sendiri. Disini kita temukan signifikansi perubahan yang revolusioner. Selalu ada tantangan untuk mendapatkan, memelihara dan memancarkan cahaya itu. DIRI SENDIRI!!! itulah tantangannya. Ia ... yang dalam dirinya terdapat id (dorongan-dorongan primitif) kata Freud, menohok-nohok dan mencabik-cabik setiap ruang-ruang jiwa kita. Ia berada jauh di alam bawah sadar kita. Ia seperti magma dalam perut gunung merapi. Ia siap memuntahkannya. Jika ia muntah, siapa yang kuat menahan baranya. Ia panas, ia melukai, ia bahkan juga membunuh. Maka ikatlah id dengan super ego!!. Jangan biarkan id meloncat-loncat kesana kemari. Redam ia dengan suoer ego, maka egomu akan mengeksekusi keputusan-keputusan terbaik untuk dirimu. maka himpunlah nilai-nilai keshalehan, himpunlah nilai-nilai kebaikan, himpunlah nilai-nilai spiritual. Berilah super egomu asupan gizi yang berkualitas baik. niscaya kau taklukan dorongan primitifmu itu.Dengannya ....... jalan menuju cahaya pada cahaya terbuka lebar.silahkan Anda menempuhnya dan dapatkan pribadi yang memancarkan cahaya itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar